PETUNJUK TEKNIS

PENANAMAN KORO PEDANG

(Canavalia ensiformis)

PERUM PERHUTANI KPH PURWODADI

Jl. Gatot Subroto No. 1 Telp. (0292) 421020 Fax.(0292) 421492

PURWODADI – GROBOGAN

2009

Kata Pengantar

Koro pedang (Canavalia ensiformis) sudah dikenal lama di masyarakat, namun tehnik budidaya secara baik belum banyak diketahui oleh masyarakat. Petunjuk teknis penanaman koro pedang dimaksudkan untuk memberikan informasi tentang tehnik budidaya koro pedang agar diperoleh hasil yang maksimal sehingga dapat dijadikan panduan dalam penanaman koro pedang dalam skala luas.

Penanaman koro pedang di lahan hutan dimaksudkan sebagai upaya diversifikasi jenis komoditas pertanian yang selama ini didominasi oleh jagung. Sistem perakaran koro pedang yang mampu mengikat nitrogen bebas di udara dapat digunakan sebagai upaya konservasi lahan dalam menjaga tingkat kesuburan tanah.

Petunjuk teknis ini berlaku di KPH Purwodadi dan dapat ditinjau kembali sesuai dengan perkembangan dan penerapannya di lapangan.

PENDAHULUAN

A. Gambaran Umum

Koro pedang (Canavalia ensiformis) merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Selatan/Tengah, tanaman ini tumbuh subur dan menyebar di daerah tropis.

Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama Kacang Parang, di beberapa daerah tanaman ini dikenal dengan nama; Koro Bedog, Kacang Mekah, Koro Bendo, Koro Pedang, Krandang (Jawa Tengah), Koang (Jawa Barat).

Spesifikasi

Tanaman berumur pendek, dengan akar panjang berbintil. Seiring bertambahnya umur, batang menjadi berkayu. Daun berseling terdiri dari 3 helai berbentuk bulat telur. Bunga berwarna ungu kadang-kadang putih. Bentuk biji lonjong berwarna putih atau kuning gading dengan panjang 6-9 mm

Gambar 1. Tanaman Koro Pedang Gambar 2. Biji Koro Pedang

Habitat

Koro pedang dapat tumbuh dengan baik pada dataran rendah (mulai 40 m dpl) namun dapat pula tumbuh pada ketinggian 1.800 m dpl. Dapat beradaptasi dengan baik di daerah tropis yang lembab dan dapat bertahan pada musim kering dengan curah hujan berkisar 700 s/d 4.000 mm per tahun.

Tanaman ini tumbuh dengan baik bila mendapat penyinaran matahari yang penuh dan toleransi keteduhan sedang.
SISTEM PENANAMAN

Penanaman Koro Pedang pada lahan hutan dilakukan disela-sela tanaman pokok kehutanan.

A. Penanaman Dengan Olah Tanah
1. Tanah dibersihkan dari rumput, alang-alang atau tanaman pengganggu lainnya.
2. Pembuatan guludan dengan cara dicangkul. Pembuatan guludan pada lahan miring bermanfaat untuk mencegah tergerusnya tanah / tanaman
3. Benih Koro Pedang ditanam dengan jarak 100 cm x 70 cm. Lubang tanam diberikan pupuk kompos atau pupuk kandang sebanyak 200 gr sebelum dilakukan penanaman, lalu ditutup dengan sedikit tanah, setelah itu benih dimasukkan dan ditutup kembali dengan tanah sehingga tidak terlihat. Satu lubang berisi 1 butir benih dengan kedalaman lubang 2 – 3 cm.
4. Setelah tanaman berusia 1 bulan, dilakukan pembersihan rumput dan pemupukan lanjutan dengan pupuk NPK cair yang disemprotkan pada daun bagian bawah. Pembersihan rumput kembali dilakukan pada usia tanaman 2 bulan
5. Pada usia 2 bulan dilakukan pemupukan dengan NPK cair dan SP 36 guna merangsang pertumbuhan batang, daun dan bakal bunga. Potong cabang yang menjulur agar tanaman bertambah rimbun dengan tumbuhnya tunas baru yang akan memproduksi bakal buah
6. Pembersihan rumput kembali dilakukan pada bulan ke 3 dan ke 4
7. Pemanenan dilakukan pada bulan ke 4, 5 dan 6. Petik buah yang berwarna coklat tua (sudah matang), biji besar, putih, padat membulat, jumlah produksi 35 s/d 75 pedang per pohon.
8. Setelah dilakukan pemanenan, buah dikeringkan dibawah sinar matahari selama 1 hari. Kemudian dilakukan pemecahan untuk mengeluarkan biji dari cangkang.

B. Penanaman Tanpa Olah Tanah

Penanaman dengan pola seperti ini dilakukan pada lahan yang subur atau bekas tanaman jagung atau kacang tanah.
Pola tanam dilakukan dengan langsung membuat lubang, tanpa dilakukan pencangkulan terhadap tanah namun pemupukan harus tetap dilaksanakan dengan baik agar tingkat produktifitas hasil panen cukup tinggi