URAIAN PROYEK (PROJECT STATEMENT) PENGUSAHAAN HUTAN KOTA

DIPERUM PERHUTANI KPH PURWODADI


PERAN HUTAN KOTA DALAM PELESTARIAN AIR DAN TANAH

Pembangunan infrastruktur perkotaan di Indonesia mengalami perkembangan fisik yang cukup pesat. Konsekuensi yang timbul akibat pembangunan dengan perencanaan yang kurang baik dan tidak memperhatikan aspek tat ruang perkotaan adalah semakin sempitnya lahan yang tersisa untuk ruang terbuka hijau.


Implikasi dari berkurangnya ruang terbuka hijau akan menambah air yang mengalir dipermukaan, dengan begitu kondisi cadangan air tanah akan makin berkurang, sehingga dimusim kemarau kita akan kekurangan air dan dimusim penghujan air permukaan akan makin bertambah dan akhirnya mengakibatkan Banjir.
Air tanah memiliki fungsi yang sangat vital bagi manusia dan tumbuhan. Peran air tanah sebagai sumber daya yang melengkapi air permukaan untuk pasokan air yang cenderung meningkat. Namun, pengambilan air tanah yang berlebihan dapat menimbulkan dampak negative terhadap sumber daya itu sendiri maupun lingkungan sekitarnya, seperti intrusi air laut, pencemaran akuifer, dan amblesan tanah ( land subsidence ).
Berkaitan dengan hal diatas keberadaan hutan kota menjadi sangat penting dan dan sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan. Adanya ketersediaan ruang terbuka hijau yang optimal, maka kehidupan diharapkan selalu mengikuti siklus alami dan krisis lingkungan dapat diminimalisir.
Hutan Kota sebagai bagian dari program ruang terbuka hijau berperan sebagai pengendali daur air, yang dimulai dari peran tajuk dalam melakukan intersepsi, kemampuan vegetasi dalam melakukan evapotranspirasi, mengendalikan kadar system lengas tanah melalui system perakaran dan mengendalikan aliran yang dikeluarkan dalam hutan.

SUB PROYEK : USULAN PENGUSAHAAN HUTAN WISATA

PERUM PERHUTANI KPH PURWODADI

KANTOR : KPH PURWODADI TAHUN 2010

A. IDENTITAS PROYEK

1. Nomor REGISTER TANAH DK NO. AA 976 878
2. Judul PENGUSAHAAN HUTAN KOTA PADA TANAH PERUSAHAAN PERUM PERHUTANIKPH PURWODADI
3. Lokasi Eks TPK GetasDukuh Pesanggrahan Desa GetasrejoKecamatan GroboganKabupaten Grobogan
4. Luas 3,8435 ha
5. Studi Pendahuluan(Sutvey Preliminator / Studi Kelayakan / Survey Detail) Obsevasi :- Administratur Perum Perhutani KPH Purwodadi- Bupati Grobogan- Camat grobogan
6. Organisasi Pelaksana PERUM PERHUTANI KPH PURWODADI
7. Bidang / Sektor yang ditugasi KPH PURWODADI
8. Bidang yang diperluakan kerjasama – Biro Pembinaan dan Konservasi Sumberdaya Hutan- Biro Perencanaan dan Pengembangan Perusahaan- Instansi / Dinas terkait Kabupaten Grobogan
9. Perkiraan Waktu 1 (satu) tahun pertama
10. Lain-laina. Kondisi fisik Lingkunganb. Kondisi Sosial Masyarakat Sekitar Lokasi bekas TPK Getas KPH Purwodadi- Tinggi Tempat : 0 mdpl- Curah Hujan : 167 mm/tahun- Tipe Iklim : C- Jenis Tanah : Grumusolkelabutua, sarang, hitam berhumus- Kedalaman Tanah : Dalam

– Topografi : Datar sampai landai

Cukup baik, mayoritas wiraswasta, pegawai

c. Sarana dan Prasarana Penunjang – Jalan raya lintas Semarang- Purwodadi- Blora- Jatim- Angkutan bis umum- Dekat persimpangan jaln lintas : Purwodadi, Blora, Pati, Semarang, Kudus

B. LATAR BELAKANG DAN TUJUAN

1. Latar Belakang (risalah ringkas, motivasi, kaitan sektoral, harapan) – Peraturan Pemerintah No.63 Tahun 2002 tanggal 12 November 2002 Tentang Hutan Kota : mewajibkan seluruh penyelenggara pemerintah kota dan kabupaten membuka sedikitnya 10% atau minimal 0,25 ha dari wilayahnya untuk dijadikan hutan kota- Dukungan dari Pemda Kabupaten Grobogan dan masyarakat sekitar KPH Purwodadi- Hubungan yang harmonis dan sinergis antara Perhutani KPH Purwodadi, Pemda Kabupaten Grobogan dan Masyarakat- Pemanfaatan dan optimalisasi aset yang masih dapat dikembangkan- Kurangnya ruang terbuka hijau dan menurunnya kualitas lingkungan, kota menjadi tercemar oleh polusi- Masyarakat sekitar KPH Purwodadi membutuhkan tempat rekreasi bernuansa alam- KPH Purwodadi belum memiliki Obyek Wisata untuk diusahakan menjadi produk unggulan dan menjadi ciri khas KPH Purwodadi

– Belum adanya Kebun Raya, hutan kota atau arboretum yang mewakili atau mencirikan/spesifik hutan iklim kering (musim) dataran rendah dan memiliki keunikan estetika jawa Tengah, terutama Jawa Tengah Bagian Timur

– Konsevasi plasma nutfah (eksitu) dan konservasi ekosistem

– Terciptanya lingkungan yang bersih dari polusi, sehat, nyaman, alami dan mempunyai nilai estetika dan edukasi

– Sebagai wujud bukti nyata dari bidang kehutanan dalam pemecahan masalah lingkungan hidup global (global warming)

– Terciptanya lapangan kerja dan lapangan usaha bagi masyarakat

– Terciptanya kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi sumberdaya alam sejak dini.

2. Maksud dan Tujuan Jangka Pendek – Mempercepat penghijauan tanah kosong diluar kawasan hutanJangka Menengah – Terciptanya kesadaran masyarakat akan manfaat dan fungsi hutan kota sebagai penetralisir polusi udara, kelestarian lingkungan hidup dan konservasi plasma nutfah- Terciptanya wisata hutan kota sebagai profit centre di bidang wisata dan produksi non kayu

Jangka Panjang

– Membentuk opini publik yang sehat, hubungan yang harmonis dan sinergis antara Perum Perhutani dan masyarakat

– Peningkatan kesehatan dan pendapatan masyarakat dengan adanya hutan kota, dan terbukanya kesempatan kerja sejalan dengan perkembangan hutan kota

3. Sistem Pelaksanaan – Studi kelayakan Penyajian Informasi Lingkungan- Mencari dukungan masyarakat akan pentingnya hutan kota dengan sosialisasi, penyuluhan dan pemaparan akan pentingnya hutan kota- Menilai kelayakan obyek, mengurangi potensi yang kurang layak, mendesain dan menata sesuai sasaran program serta mengembangkan dan membangun prospek hutan kota- Perncanaan oleh Perum Perhutani KPH Purwodadi- Pelaksana oleh Perum Perhutani KPH Purwodadi
C. PENILAIAN PROYEK (PROJECT APPRAISAL)
1.Manfaat Finansial Manfaat Finansial- Diharapkan dari penataan tahap awal diperoleh pendapatan dari karcis masuk lokasi untuk melihat koleksi tanaman dan pemandangan alamOutput – Input- Kesadaran masyarakat akan lingkungan hidup dan plasma nutfah- Dapat menyerap zat beracun, Kabon dioksida dan Karbon mono-oksida, dan merubahnya menjadi Oksigen- Kontribusi Oksigen (O2) yang dihasilkan dan dihirup banyak orang, bila dirupiahkan menghasilkan nilai yang cukup besar (Perdagangan carbon)
2. Manfaat Ekonomi – Terciptanya profit centre bagi Perum Perhutani berupa pengembangan wisata hutan kota dan pengembangan budi daya / pengangkaran flora di kemudian hari- Menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar dengan adanya wisatawan, seperti penjualan makanan, souvenir/ kerajianan tangan dan lain-lain (multiplier effect)– Sebagai tempat wisata orang tua dan anak-anak dari penatnya kota Purwodadi, tempat beristirahat perjalanan dari Solo, Semarang, Kudus, Pati ke Blora, Bojonegoro (Jatim) via Purwodadi
3. Manfaat Sosial (dampak terhadapkesehatan masyarakat, pendidikan,rekreasi, olah raga dan sebagainya) – Terciptanya lingkungan hidup yang sehat, indah, bersih dan nyaman alami serta estetis- Terwujudnya arboretum sebagai tempat pendidikan, penelitian di bidang kehutanan serta lingkungan/ekosistem sekaligus sebagai tempat konservasi plasma nutfah- Meningkatkan keindahan kota, meningkatkan industri jasa pariwisata, sebagai tempat mengurangi stress masyarakat serta sebagai tempat mengisi waktu luang bagi masyarakat
4. Manfaat Ekologi – Sebagai identitas suatu kota, tempat pelestarian plasma nutfah, habitat satwa liar- Berperan penting dalam membersihkan pencemaran udara, penyaring partikel padat (debu), menyerap partikel logam (timbal) di udara, mengurangi hujan asam, menyerap gas karbon mono-oksida (CO) dan karbon dioksida (CO2)- Penahan angin, peredam kebisingan, penapis cahaya sulau, menjaga keseimbangan iklim mikro
5. Dampak Sektoral – Diharapkan dapat menciptakan unit usaha berupa industri penangkaran bibit tanaman (flora) hias, langka, obat-obatan dan sebagainya- Memberikan lapangan kerja dan usaha bagi masyarakat.- Sebagai media promosi untuk produk lokal unggulan (local specific)
6. Soscial Cost (sebagai akibat proyek, kerugian masyarakat yang mungkin terjadi, antara lain terpakainya lahan, polusi air, polusi udara dan sebagaianya) – Hilangnya tempat penggembalaan ternak (kambing, sapi)- Hilangnya kesempatan masyarakat untuk mengolah tanah dengan cara tumpangsa