Memahami seni kepemimpinan sebenarnya bukanlah hal yang sulit dari hal-hal yang konkrit di sekitar kita ketimbang dengan rumus dan definisi abstrak yang ada dikebanyakan buku tentang kepemimpinan.

Mengapa?

Kepemimpinan adalah seni ( art)  bukan ilmu ( science ) . Seperti juga bidang seni tang lain, ia lebih merupakan sesuatu yang fleksibel, cair dan menyatu dengan habitatnya………………………………………………
Dari itu produk yang tercipta adalah refleksi lingkungannya. Orang bisa memberi contoh antara korelasi warna musik itu dilahirkan dengan lingkungan dimana musik itu dilahirkan. Jadi kalu lagu-lagu di Maluku lirik dan iramanya tak jauh dari laut,angin,pantai yah itu wajar saja.

Bahwa kepemimpinan dapat diformulasikan, dituangkan dan dibukukan boleh dan bisa saja. Bahkan lembaga pendidikan memasukkannya menjadi cabang dari ilmu Manajemen. itu pun Oke Oke saja. Tetapi bisakah seseorang setelah membaca habis buku itu atau lulus ujian mata kuliah kepemimpinan akan mampu menjadi pemimpin yang baik? Tetapi tidak otomatis menjadi ” Pemimpin “, karena untuk menjadi seorang pemimpin ia harus menguasai seni kepemimpinan.

Dari banyak segi dalam seni ini salah satu yang cukup menonjol adalah ” KEBIJAKAN atau WISDOM “. Dilingkungan kita ini dengan mudah kita tahu bahwa banyak sekali orang menjadi pandai ( smart ) karena ukurannya sudah S2 atau S1 Universitas terkemuka bahkan Universitas Luar Negeri dengan Indeks Prestasi ( IP ) diatas angka 3, komputer wizaed, ahli menyusun banyak konsep dan masih banyak lagi.  tapi orang bijak, tidak bisa diukur dengan cara yang sama. Mengapa? kembali soal kesenian dan keilmuan tadi. Kebijakan tidak bisa dipelajari diruangan kuliah, tetapi dari pengalaman empiris dan tidak bisa ditetapkan waktunya 1,2 atau 3 tahun.

Jenis pengalaman dan kemampuan si individu untuk mencerna sangat mempengaruhi. Adakah orang  bijak yang memang dilahirkan sebagai orang bijak? Ada kalau yang dimaksud adalah memiliki bakat untuk menjadi orang bijak. Tetapi tetap saja pengalaman adalah faktor penting. Terus apa definisi WISDOM itu sendiri?
Nah ini dia masalahnya kalau seni ditarik ke habitat ilmu, banyak pengarang buku buku tentang leadership mempunyai definisinya sendiri-sendiri tentang hal tersebut. Tetapi menurut penulis , intinya adalah sama, yakni WISDOM adalah kemampuan seseorang untuk mengelola dua sisi kehidupan secara berimbang.
Dua sisi? ya , hidup selalu mempunyai dua sisi yang seringkali kontradiktif. Siang – malam, suka – duka, sukses – gagal, baik – buruk, dan seterusnya. Tentang contoh
sebenarnya masih banyak lagi, namun dalam paragraf berikut penulis coba kemukakan beberapa yang mungkin sebenarnya pembaca sudah tahu akan tetapi belum tahu bahwa itulah KEBIJAKAN.

Pernahkah Anda mendengar ini ” Makanlah sebelum kamu lapar, dan berhentilah makan sebelum kamu kenyang “ atau ” Rayakanlah keberhasilanmu dengan sujud dan renungkanlah kegagalanmu  dengan sujud pula ” atau pilih kata antara ” Salah dengan Kurang benar, Tidak dengan Nanti dulu atau bagaimana Anda menyikapi situasi ini ?…………………………………………………………………….
Begitu marahnya Anda karena mendengar bawahan anda berbuat kesalahan yang cukup fatal. Haruskah anda menentukan nasib bawahan anda saat itu? Atau menunggu esok saat emosi anda mereda?
…………………………………………..
Cerita tentang kapan seorang pria memutuskan untuk mengawini wanita idamannya juga bisa sebagai gambaran: saat dia mabuk kepayang atau beberapa waktu kemudian setelah ” semua kartu ” dibuka diatas meja?

Dengan contoh-contoh diatas, kira-kira apakah Anda sudah bisa mengerti apa sebenarnya arti kebijakan?…………………………………………………………….
Kalau sudah walaupun hanya berupa setitik cahaya diujung lorong, artinya sudah saatnya ANDA untuk memulai merenungkan bagaimana ANDA selama ini mengelola dua sisi yang berbeda tersebut.
Kemudian cobalah yang lebih baik menurut nurani anda dari waktu ke waktu. Tidak ada batasnya kapan anda sudah atau belum jadi orang bijak.
Jangan mencoba minilai diri anda sendiri, tetatpi biar orang lain yang menilai diri anda.

” SELAMAT MENCOBA “

Di tulis oleh : PIRMANSYAH ,

Asper/KBKPH. Penganten KPH. Purwodadi

Penulis