Pernahkah anda mengalami rasa panik?

Apa yang terjadi ketika kita panik?

Respon terhadap kepanikan sangat tergantung pada fungsi kontrol dan kemampuan seseorang menguasai keadaan tersebut. Namun biasanya ada dua reaksi yang terjadi ketika rasa panik melanda.

Pertama, bersikap dan mengambil tindakan secara tergesa- gesa yang lebih mengandal kan insting. Kedua, tidak melakukan apapun sama sekali. Ini baru satu orang yang panik, bayangkan jika kepanikan menimpa sebuah Kelompok wilayah atau bahkan pe- merintahan suatu Negara. Seperti cerita dari negeri tetangga berikut ini….

Syahdan pada suatu masa, disebuah kerajaan yang rajanya hoby memerintahkan rakyatnya membuat kue, ada sekompok koki yang mempunyai tugas sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.

Ada koki spesialis pembuat kue cucur, ongol-ongol, kelepon dan kue-kue lainnya yang biasanya dibuat sesuai pesanan dan selera Sang Raja. Biasanya permintaan Sang Raja disampaikan mela- lui para patihnya, yang kemudian melanjutkan titah sang baginda kepada para koki.

Pada suatu ketika, setelah menerima tamu dari Negeri tetangga yang menyatakan bah wa salah satu factor kemajuan Negeri ini ditentukan antara lain oleh kerajaan besar di- negeri seberang, Sang Raja berfikir untuk melakukan ”Pedekate” kepada penguasa kerajaan besar tersebut .

Berdasarkan pemahaman Sang Raja, salah satu makanan favorit kerajaan besar itu ada lah kelepon warna biru isi keju. Karena itu Sang Raja kemudian memerintahkan salah satu patihnya membuat kelepon warna biru isi keju untuk dikirim kekerajaan besar ter-sebut, dengan harapan member pengaruh positif bagi Negeri yang mulai dibayangi an-caman kebangkrutan ini.

Celakanya, waktu yang diberikan kepada Sang Patih sempit sekali. Padahal nama ma-kanan itu terdengar aneh ditelinga beliau. “PANIKLAH SANG PATIH”

Al hasil Sang Patih kemudian mengambil langkah cepat dengan mengumpulkan hampir semua koki yang dianggap berpengalaman dalam hal bahan dasar seperti per-tepung-an, per-kelapa-an, per-gula-an, per-warna-an, per-keju-an, dsb.

Jadilah Sang Patih bertindak sebagai Kepala Koki yang kemudian disibukkan dengan bahan- bahan masakan dan semua detail pekerjaan koki lainnya. Alhasil, pekerjaan utama dan banyak pekerjaan yang seharus lebih membutuhkan konsentrasi Sang Patih menjadi terabaikan.

Andai anda menjadi Sang Patih, apa yang akan anda lakukan?

Kalau saya yang ditanya, ada dua hal yang akan saya lakukan : Pertama saya akan konfirmasi ulang pada Sang Baginda tentang permintaan yang terdengar aneh tersebut. Bila perlu saya akan memberikan masukan tentang seberapa penting masakan itu dibuat, hanya demi untuk memenuhi selera tetangga. Soal ditolak atau tidak usulan saya itu nomor sekian, yang jelas saya sudah memberikan sikap yang saya anggap terbaik bagi negeri ini.

Dengan pemahaman saya mengenai karakter Sang Baginda seharusnya ini hanya persoalan “Cara” (istilah kerennya “Pola dan metode Komunikasi”)

Kedua, bila memang tugas itu tidak bias lagi ditawar tentu akan saya kerjakan sesuai kapasitas saya sebagai patih. Yang saya akan lakukan adalah memanggil Kepala Koki dan Koki pembuat kue kelepon bila perlu. Lalu saya perintahkan Kepala Koki untuk mengatur pembuatan “Kue Aneh “ tersebut dengan koki pembuat kelepon sebagai koki utama . Mengapa harus koki pembuat kelepon yang menjadi koki utama ? …. Lho kan sebetulnya kue tersebut tidak aneh-aneh amat , karena walaupun warnanya biru dan isinya keju , toh judulnya masih kue kelepon juga. Jadi tinggal memodifikasi warna dan rasa saja.

Jadi fungsi saya sebagai Patih adalah lebih kepada kontrol dan memasang rambu-rambu alias kebijkan (do and don’t-nya) terhadap pekerjaaan si Kepala Koki dan pasukannya.

Pelajaran apa kiranya yang bisa diambil dari ini?

Bagi saya tindakan yang diambil Sang Patih lebih merupakan sikap reaktif yang cenderung menjadi tanda adanya kepanikan. Hal ini berbeda dengan sikap responsive yang tidak melulu mengandalkan insting sesaat. Bila ini terjadi pada level “Hamba Sahaya” , sikap panic biasanya tidak berdampak apapun pada organisasi (kecuali bila kepanikan itu menjadi rasa massif yang diekpresikan dalam gerakan kolektif, demo misalnya). Namun tentu akan berbeda dampaknya bila kepanikan melanda seseorang yang bertampuk kekuasaan sekaliber patih. Efek langsung akan dirasakan bukan saja oleh mereka yang ada disekitar Sang Patih, namun juga bias terasa diseluruh Negeri.

Belum lagi dampak tidak langsung (multiplier effect) kepada banyak orang dan pekerjaan seharusnya memperoleh perhatian dan konsentrasi Sang Patih.

Lebih jauh tentang Panic Management

Istilah Management Panic sebenarnya tidak dikenal dalam Ilmu Manajemen. Karena Ilmu Manajemen modern disusun atas kerangka dasar keteraturan system dan bekerjanya fungsi manajemen.

Walaupun terdapat pengakuan adanya dimensi Seni atau Art didalam manajemen , namun dalam keharian penerapan ilmu manajemen tidaklah seperti teori yang rapi. Istilah manajemen panic seringkali ditemui dalam keharian manajemen kantor Pabrik atau Perusahaan .

Pengertian manajemen panic tentu tidak sama dengan Manajer Panik . Manajer Panik lebih karena keterbatasan kemampuannya karena seharusnya Manajer yang baik adalah Manajer yang telah dapat memprediksi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Manajemen Panik adalah Manajemen yang tidak biasa atau dapat lebih disederhanakan sebagai Manajemen “Kalang Kabut” Manajemen Panik dapat terjadi karena berbagai factor utamanya adalah tidak bekerjanya Manajemen secara sistemik dan mandengnya fungsi manajemen seperti Planning, Organizing, Actuating dan Controling, Manajemen Panik sering menyebabkan hilangnya rasionalitas dalam mengambil keputusan dan pendelegasian wewenang .

Cara-cara menerabas (bukan terobosan) muncul sebagai akibat lemahnya system. Faktor selanjutnya dapat saja disebabkan karena adanya manajer panic, orang yang seharusnya berfungsi mengelola justru panikan Manajer Panik juga dapat menyebabkan munculnya manajemen panic lebih-lebih bila itu terjadi pada manajer puncak. Dengan demikian manusia dan system yang dibangunnya dapat menyebabkan munculnya manajemen panic.

Dalam skala luas manajemen panic dapat mungkin juga terjadi pada pemerintahan, seperti beberapa waktu lalu ketika harga beberapa komoditas pangan melonjak tiba-tiba . Entah karena suplay yang jauh lebih terbatas atau tiba-tiba menghilang dipasar, Pemerintah kemudian mengambil langkah dan kebijakan yang dianggap sebagian kalangan sebagai tanda kepanikan (menurunkan bea masuk dan imfor, menambah subsiidi , dan sebagainya) Tindakan ini dinilai lebih merupakan panadol effect ketimbang menyelesaikan akar permasalahan yang sesungguhnya, walaupun sikap pemerintah tersebut dapat dipahami sebagai reaksi jangka pendek, namun tentu akan lebih bijaksana bila ada kebijakan lanjutan yang bersifat jangka panjang.

Untuk Perusahaan seperti Perum Perhutani , seharusnya manajemen panic tidak perlu terjadi. Walaupun bekerjanya sangat tergantung dengan alam dimana ditentukan antara lain oleh Produksi Hasil Hutan berupa Kayu dan Non Kayu.

Manajemen Perum Perhutani system perangkat berikut orang-orangnya sudah cukup berpengalaman dalam menghadapi berbagai perubahan situasi lingkungan strategisnya. Manajemen Perum Perhutani telah membuktikan diri mampu menjadi operator yang handal dari berbagai kebijakan pemerintah khususnya dibidang pengelolaan sumber daya hutan lebih khusus lagi terhadap kebutuhan sandang pangan terkait dengan penanaman tanaman jagung dll dibawah tegakan guna kebutuhan masyarakat sekitar desa hutan.

Berangkat dari keberhasilan yang telah dicapai oleh Perum Perhutani terkait dengan kebijakan Pemerintah, maka perlu adanya kepedulian dari Karyawan dan Karyawati Perum Perhutani untuk mempertahankan apa yang sudah menjadi capaiannya tersebut.

Namun bukan tidak mungkin manajemen panic muncul saat ini, lingkungan politik yang berubah koordinasi yang lemah, transformasi yang dijalankan oleh Perum Perhutani masih jalan ditempat karena tidak adanya dukungan dari Karyawan dan Karyawati untuk melakukan perubahan, ini dapat menyebabkan berkembangnya manajemen panik, padahal dengan posisi lembaga semacam Perum Perhutani kerap memperoleh penugasan “Pemadam Kebakaran” dan itu sangat rentan terhadap situasi kepanikan. Karena itu, selama fungsi “Pemadam Kebakaran” masih ada pada Perum Perhutani , selama itu pula seluruh jajaran Perum Perhutani seyogyanya diisi oleh orang-orang yang tidak “Panikan” seperti Sang Patih tadi. Pertanyaannya kemudian maukah kita hanya menjadi Pemadam Kebakaran “? Tentunya tidak kan.

Untuk itu penulis mengharapkan kepada seluruh Rimbawan Perum Perhutani untuk bersama-sama kita menyatukan persepsi demi tercapainya suatu tujuan sehingga Perum Perhutani “JAYA KEMBALI” dan marilah kita hindari Manajemen Panik.

Penulis : PIRMANSYAH,SE
Asper/KBKPH Penganten KPH Purwodadi