MAKAM TABEK PRAWOTO

makam mbah tabek

Makam tua yang berada di Petak 9 RPH Prawoto, oleh Yayasan Raden Haryo Bagus Mu`min dipercayai bahwa makam tersebut adalah makan Tabek Prawoto.

Antara Perum Perhutani KPH Purwodadi, LMDH Sido Makmur dan Yayasan Raden Haryo Bagus Mu`min telah melakukan kerjasama pemanfaatan lahan dalam kawasan hutan yang berada di Pegunungan Kendeng Utara yang berbukitan kapur, dengan cara pembagian sharing, untuk Perhutani rata-rata setiap tahunnya mendapatkan Rp 600.000,- (Enam ratus ribu rupiah).

Makam Tabek Prawoto secara administrative terletak di Dk. Domasan, Ds. Prawoto, Kec.Sukolilo, Kab.Pati, dikawasan hutan milik Negara yang dikelola Perum Perhutani, di Petak 9 c RPH. Prawoto, BKPH.Penganten, KPH.Purwodadi, luas 0,9 Ha.

Masuk Kelas Hutan LDTI (Lapangan Dengan Tujuan Istimewa = kuburan) didalam Pal Batas Kawasan Hutan (Pal B 86 s/d Pal B 92 serta Pal KB 1, KB 2, KB 3 dan KB 4).

Makam salah satu unsur dari liang lahat, jirat, dan nisan, maka untuk mengalisis sebagai makam kuno dapat dilihat dari jirat , nisan yang ada.

Bentuk nisan dimakam Tabek Prawoto merupakan bentuk nisan tipe Demak, dengan melihat bentuk nisan yang ada dapat diketahui bahwa makam ini merupakan makam kuno, didukung dengan konteks lingkungan yang ada dan terletak pada bukit yang dianggap memiliki kesakralan dan kekeramatan tempat.

Suharto, selaku Ketua Yayasan Raden Haryo Bagus Mukmin menjelaskan bahwa :

” Tokoh Tabek Prawoto belum diketahui secara jelas karena belum ada sumber sejarah maupun keterangan dari masyarakat setempat yang mengungkap tentang asal usul maupun keberadaan tokoh tersebut ”.

Menurut informasi nama Tabek Prawoto bukan digunakan untuk nama diri tapi merupakan istilah untuk menyebut “ status ” orang yang dimakamkan, setiap malam Selasa dan Jum`at lokasi tersebut banyak dikunjungi masyarakat sekitar maupun dari luar daerah yang tujuannya untuk tahlilan.

” Makam Tabik Prawoto khususnya Nisan dan Konteks lingkunganya terletak dikawasan hutan Negara yang dikelola Perum Perhutani, dapat dikatagorikan sebagai Benda Cagar Budaya yang dilindungi oleh Undang-Undang, berkenaan lokasi tersebuit masuk wilayah pangkuan kami (LMDH Sido Makmur) secara tidak langsung kami ikut bertanggung jawab atas kelestarian lokasi tersebut ” kata Sugiyanto, SH. selaku Ketua LMDH Sido Makmur.

Penelaah sejarah makam Tabek Prawoto masih sangat kurang karena data sumber tertulis seperti babat lokal atau babat tanah Jawa serta cerita tutur yang memuat tokoh Tabek Prawoto, maka dalam kerangka sejarah perlu dilakukan penelitian.

MASJID TIBAN

KPH PURWODADI, Apakah pernah mendengar adanya Masjid Tiban yang asal mulanya didirikan didalam kawasan hutan Petak 21b RPH Terkesi, BKPH Penganten, KPH Purwodadi.

Oleh : Sugiyono, Kaur Humas.

Selain  obyek wisata religi di BKPH Penganten juga terdapat sebuah situs yang menurut masyarakat setempat disebut dengan MASJID TIBAN ( muncul dengan tiba-tiba )

Sebagian besar orang mempercayai bahwa kayu jati dapat mendatangkan berkah, murah rejeki, awet muda serta panjang umur.

Seperti halnya kayu jati yang berada di Petak 21b RPH Terkesi kala itu, yang sekarang merupakan hamparan tanah kosong akibat era reformasi dan lokasi tersebut masuk Rencana Tahun Tanam 2008.

Data yang diambil dari Kantor Urusan Agama Purwodadi serta penjelasan KH Mustamir selaku penasehat Masjid Tiban di Desa Terkesi-Klambu, Grobogan.

Keberadaan Masjid tidak diketahui pendirinya yang hanya dihubungkan dengan budaya Islam tentang asal mula berdirinya Masjid Agung Demak.

Bangunan Masjid itu diketahui orang dengan adanya bangunan yang berada diatas perbukitan tengah hutan jati Candi Ketilang, Petak 21b RPH Terkesi BKPH Penganten KPH Purwodadi.

Suatu saat tanpa diketahui orang bangunan sudah pindah dilereng gunung yang jaraknya sekitar 2 km di Dusun Kodowo dan terakhir kalinya pindah lagi di Desa Terkesi.

Kejadian tersebut membuat penduduk merasa heran karena tidak tahu siapa yang memindahkan bangunan Masjid serta diikuti dengan peristiwa yang menajubkan dengan keberadanya kolam yang bentuknya masih seperti semula.

Kolam yang dibuat dari batu padas bentuknya sangat kecil namun airnya tidak pernah kering, dan oleh penduduk setempat bermaksud untuk mengganti dengan ukuran yang lebih besar dari batu merah dan semen namun selalu gagal.

Adapun sejarah dari Masjid tiban pada waktu keemasan kerajaan Demak terjadilah peristiwa yang termasyhur didalam mendirikan Masjid Agung Demak, terjadilan pembahasan antara para Wali dan Sri Sultan Patah untuk mendapatkan kayu jati sebagai bahan bangunan Masjid.

Para Wali dan pengikutnya sepakat untuk mengambil kayu jati di Dukuh Kosambi yang letaknya ditengah hutan didaerah Klambu-Grobogan.

Untuk tempat istirahat dan ibadah para Wali dan pengikutnya mendirikan bangunan yang sangat sederhana yang beratap resulo/rumbia, sedangkan Mustoko (kepala) Masjid dibuat dari tanah yang bergambar 4 (empat) muka manusia, serta didapati alat-alat berupa : bedug, genting, mimbar yang bercorak zaman Wali Songo, namun sekarang sudah banyak yang rusak.

Setelah pembangunan Masjid Agung Demak selesai dibuat para Wali dan pengikutnya kembali berkunjung ke Dukuh Kosambi didapainya bangunan yang dibuat terlantarkan, selanjutnya bangunan tersebut dipindahkan di Dukuh Kronggo karena tak`mirul Masjid didaerah itu tidak berhasil kemudian bangunan tersebut dipindahkan lagi di Desa Terkesi sampai sekarang tanpa diketahui siapa yang memindahkannya.

Kejadian yang tidak disangka-sangka sebelumnya bahwa di Desa Terkesi sudah berdiri bangunan Masjid dan oleh penduduk setempat menamakan sebagai “Masjid Tiban”